Langsung ke konten utama

Penonton Reuni

 Hari ini ada reuni. Hubungannya masih ada, dan hangat.  Aku yang jadi penonton, merefleksi. Aku yang kerap merasa cemas berada di sekitar orang lain ini, mungkin terlalu banyak berfikir. 

Sering aku merasa takut, bagaimana jika sesorang tidak menyukaiku? Bagaimana jika waktunya terbuang sia-sia dengan bersamaku? Bagaimana jika jawabanku tidak sesuai dengan keinginannya? Ketakutan-ketakutan yang menjadikanku tak lagi menikmati waktu bersama. Kadang, membuatku tak lagi authentik, Kecemasan itu, mungkinkah, karena takut ditinggalkan? 

Perlahan, kamu musti sadar bahwa mereka yang benar-benar ingin berelasi denganmu, tak pernah keberatan. Terutama jika kamu mau menjadi diri sendiri. Mereka pun akan menemukan frekwensinya. Kalaupun mereka sedang tidak bisa, ataupun tidak cocok, biarkan saja. Mereka punya alasan. Tidakkah kamu juga sering bikin alasan nggak sopan seperti "lagi nggak mood?" Jadi, kenapa harus ambil pusing? 

A healthy relationship adalah ketika kamu bisa menerima semua itu tanpa menghakimi. Ketika temanmu memilih teman lain untuk ditemani, ketika orang terdekat memilih pekerjaannya daripada menghadiri acara pentingmu, when your people choose everybody else, but you. Jangan di ambil pusing. Sepanjang kamu memilih dirimu sendiri, kamu nggak pernah perlu yang lain. Sounds lonely? 

No, darling. Justru dengan memilih dirimu sendiri, kamu punya kapasitas untuk menjadi partner yang lebih baik. Kamu tahu, reaksi autentikmu adalah yang terbaik, setidaknya bagi dirimu sendiri. Deep down inside, kamu akan bangga karena tidak lagi membohongi diri sendiri. Karena kamu tidak bisa benar-benar tulus kepada orang lain jika kamu masih membohongi diri sendiri.

The day gets darker, I took some pictures of them. And this time I am more comfortable to give them compliment and count down, even though the pictures are not all good. 

Ya, katanya sih yang penting Pede. Sisanya, mari kita terima kritik dengan lapang dada sambil tersenyum.

Postingan populer dari blog ini

Uncertainty

How do you get used to this feeling? The feeling of uncertainty, the feeling of fear of unknown. Rasanya ingin menghindar ketika dihadapkan dalam situasi ini. Namun, dibalik ketidaknyamanannya, this uncertainty feeling sometimes hides a treasure. This feeling has been with me since the afternoon. Aku mulai mengidentifikasi perasaan tidak nyaman ini sebagai ketakutanku jika tidak bisa mempresentasikan materi dengan baik. Padahal, ketika kuliah, perasaan ini adalah teman yang tiap hari menyapa. Di situasi semacam ini, aku perlu menjustifikasi banyak hal, menjelaskan berbagai macam hal termasuk cara kerja dunia dan pikiran orang lain untuk menenangkan diri. Aku juga mencoba untuk membelah diri, mencoba menjadi pengamat atas diriku yang sedang gelisah. Pengamat yang tak menghakimi, memvalidasinya, dan menghiburnya bahwa perasaan ini sungguh hal wajar, dan terkadang,sisi baiknya,  membuatku menyadari bahwa aku manusia.  Risiko orang overthinking, barangkali. Aku tengah berusaha men...