Langsung ke konten utama

Zombie

Kalau tiba-tiba ada virus zombie, mau jadi apa? Tetap jadi manusia atau turut jadi zombie?

Jawabannya tergantung.

Kalau setelah jadi zombie tidak ada konsekuensi, kayanya aku bakal pilih jadi zombie saja. Tapi kalau aturan mainnya mengharuskan kita tersiksa like hell ketika jadi zombi. Atau harus masuk neraka selamanya setelahnya.  Kayanya aku bakal bertahan sebisa mungkin untuk tetap jadi mausia. Dan kalaupun jadi zombi, setidaknya ada usaha lah. Tapi kalau boleh pilih peran, kayanya, mau jadi sunflower saja.

And talking about virulency, I guess the contagion of inhumanity and immorality have spread beyond expectation. Am I infected, already? Unfortunately, nobody knows yet. Tapii, kayanya emang bakalan banyak sih. And that's how this world's going to end.

Dan berada di negara ini, mudah sekali menemukannya. Every time I scroll through social media. I can't help but say istighfar. Semuanya seolah berprogres ke arah nullifying morality (aseek). Yah, intinya nggak ada moral lah.  Rasanya stressful sekali, seperti nggak bisa lagi diselamatkan. Saking stressful-nya, baru akhir-akhir ini berdoa buat negara. It turns out, I love this country pretty much. Dan, nggak ada yang bisa selamatkan kamu, kecuali Allah. For this, I am so thankful for having this privilege. Believing that there is something after this life.

But, aren't you too confident, baby? Yakin, situ bisa selamat?

Nah, itu. Kita lihat lagi kasus zombie. Intinya, sebisa mungkin berjalanlah ke sana, toward the right path. Try your best to be human, or at least human-like. Kalau sudah berusaha sekuat tenaga, mungkin, bakalan dikasihani oleh Sang Pencipta. Who knows?

Postingan populer dari blog ini

Uncertainty

How do you get used to this feeling? The feeling of uncertainty, the feeling of fear of unknown. Rasanya ingin menghindar ketika dihadapkan dalam situasi ini. Namun, dibalik ketidaknyamanannya, this uncertainty feeling sometimes hides a treasure. This feeling has been with me since the afternoon. Aku mulai mengidentifikasi perasaan tidak nyaman ini sebagai ketakutanku jika tidak bisa mempresentasikan materi dengan baik. Padahal, ketika kuliah, perasaan ini adalah teman yang tiap hari menyapa. Di situasi semacam ini, aku perlu menjustifikasi banyak hal, menjelaskan berbagai macam hal termasuk cara kerja dunia dan pikiran orang lain untuk menenangkan diri. Aku juga mencoba untuk membelah diri, mencoba menjadi pengamat atas diriku yang sedang gelisah. Pengamat yang tak menghakimi, memvalidasinya, dan menghiburnya bahwa perasaan ini sungguh hal wajar, dan terkadang,sisi baiknya,  membuatku menyadari bahwa aku manusia.  Risiko orang overthinking, barangkali. Aku tengah berusaha men...