Langsung ke konten utama

[Cerpen] Ayam Geprek dan Recehan




“Enam ribu, tujuh ribu, lapan ribu, Sembilan ribu, sepuluh, sebelas lima ratus…” rapal nominal dari bibirnya terhenti. Tidak ada yang tersisa untuk dihitung Risa. Gadis itu menjangkau ransel abu-abunya. Menyibak tiap ruangnya lebar-lebar. Setiap ruang lantas ia jelajahi dengan teliti, berharap menemukan kepingan logam yang bisa menggenapi hitungan. Tidak sampai lima menit perburuan dalam tas ranselnya usai. Risa harus puas dengan temuan berupa empat keping lima ratus.

Risa kembali duduk di kursi depan meja belajar, menatapi lagi jajaran receh yang ditata vertikal. “Tadi sebelas limaratus, jadi tiga belas lima ratus.” Gumamnya. “Kurang seribu lima ratus.”

Perburuan masih harus berlanjut. Risa membuka laci di sisi meja belajar. Sembari memasang mata, dikeluarkannya benda-benda yang dirasa menggangu. Di sudut terdepan, matanya berbinar menemukan sekeping logam. Sejurus kemudian, tercetus decakan di bibirnya. Ia harus kecewa menyadari itu bukan rupiah. Dilemparnya keping receh Thailand itu ke pouch make up di hadapannya. Sambil menggerutu dari mana asal usul receh bath itu, Risa meneruskan perburuan.

Sepuluh menit berlalu, isi laci belum juga usai dikurasnya. Barang-barang yang lama dilupakan Risa beberapa kali mencuri perhatian. Termasuk buku pembuakan berwarna hijau di pangkal laci. Mata Risa tertumbuk, tangannya ragu menyentuh sampil buku. Pikirannya terlempar pada tujuan awalnya bertaruh nasib di kota besar ini. Tumpukan receh sesaat terabaikan.

Risa menarik buku catatan itu membuka isinya dan membacanya singkat.

“Hansel” bisiknya. “Apa yang kamu harapkan, Sa?”

Risa merasa geli sendiri mengingat dirinya dulu yang begitu polos. Menemukan orang yang tidak dia ketahui tanpa petunjuk apapun di belantara Jakarta layaknya mencari duri dalam stumpuk jerami.

Ya, mencari sesorang adalah tujuan utamanya datang ke kota ini. Sudah lama ia meraba-raba dalam gulita. Nihil karena ia tidak punya petunjuk. Pertama kali datang, Risa hanyalah gadis desa tamatan SMA. Meskipun ia cukup cerdas mengakali segala keterbatasannya, namun kehidupan di sini membutuhkan modal yang lebih dari itu. Maka, untuk sesaat Risa memilih jeda. Ia berhenti mencari untuk memilih mengisi bahan bakar. Ia perlu menyusun strategi baru, sebelum mulai pencariannya lagi. Namun rupanya, kehidupannya sekarang terlalu melenakan.

Risa hendak menutup kembali buku catatan itu ketika menyadari ada kertas putih yang mencuat di tepinya. Ditarikya kertas putih itu yang rupanya sepetak amplop kecil. Senyum Risa terkulum. Firasat baiknya dikuatkan dengan temuan selembar uang dua puluh ribu rupiah dalam amplop tersebut. Disikatnya isi amplop itu, lantas tanpa ampun membelasakkan buku bersampul hijau tempatnya bersemayam tadi lebih dalam ke pangkal laci. Menimbunnya dengan barang-barang lain seolah ingin ikut menenggelamkannya dalam ruang paling tertutup dalam hidupnya.

Tanpa menghitung lagi, Risa meraup receh di meja dan menjebloskannya ke kantong celana. Lekas, Risa menyambar sweater hitam yang menggantung di tebok dan kunci kamar kos yang tergeletak di meja. Senyumnya masih terkulum, terpantul singkat di cermin dekat pintu sebelum ia membukanya dan melangkah keluar. Senyum itu semata-mata karena satu hal. Malam ini, ia bisa makan ayam geprek level terpedas yang sudah berminggu-minggu diidam-idamkannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Superpower

 If you had chosen a superpower, what would you have? I can't tell. Living for a long time is not my dream since I love sleeping very much. A skill to be invisible? I don't think I need it since I don't have any willingness to eavesdrops. And how would you utilize that information you got? I have no idea. Then, I suppose, stopping time is what I want. Since I have wasted it much.  But somehow, I know what my current skill is. It's chasing away people. I am good at ignoring and making them annoyed and leave me. Is it a skill? But is it a skill or a mere weakness? Or you can make it as an excuse: My weakness is my strength, heh. No, honestly, I learn to accept this dark side of mine. Learning and understanding this specific person is a real struggle. And now I realize the gravity of my stupidity. Still, chasing people away by lying is not actually my thing. Will I be punished afterlife for this? I do regret. I was wrong and deeply apologize. Sorry for being childish and d...

Telling a Lie

 I wonder. Why I feel this way. Everything seems messed up. I remember that day, I don't feel right about our relationship. It felt grayish. You message me as if I am someone. But, we progressed nowhere. Perhaps, It was just a play? Or solely a friend? But I don't think that is what a friend supposed to be. Then, I found the easiest way, to cut down our channel by saying I would get married. I didn't like your taste of humor and that stuck relationship. I had a feeling that you too, didn't have any intentions or courage to escalate it into the next level. So I lied. I said that I had found someone, and I would send you an invitation. I asked your address but ended up sending nothing. Because the truth is there is no marriage.  It's been five years, hasn't it? And We completely become stranger. No message sent at all. All is cut off. Do you have any clue that it was a lie? Now, I kind of regret it. I wasn't supposed to tell you a lie. However, I don't hav...

Peringatan

 Seberapa jauh perjalanan yang perlu ditempuh untuk sampai? Ketika memikirkan hal ini, semuanya akan terasa berat. Pikiran, dan hati akan tebebani karena pandangan dipenuhi oleh ribuan langkah yang mesti ditempuh untuk tiba di tujuan. Ada juga yang tidak tahu sama sekali tentang tujuan mereka. Tak tahu kemana melangkah, tiap langkah kecilnya selalu diikuti ketakutan. Hingga kita kadang memutuskan untuk ambil jalan termudah, tidak melakukan apa-apa.  Namun, tidak melakukan apa-apa bukan berarti kamu tidak kemana-mana. Waktu akan menyeret kamu, ke tempat yang sama sekali tidak terprediksi, yang acap kali berupa tempat yang tidak mengenakkan, penyesalan. Tulisan ini adalah peringatan dan juga ajakan untuk diri sendiri yang kerap tak sengaja terlelap dan tak melakukan apapun.  Kalau boleh jujur berpendapat, sepertinya pikiranmu sudah terlalu terkontaminasi oleh keragu-raguan kronis. Ketidakpercayaandirimu sudah terlalu kronis, sepertinya. Bukan tanpa dasar sih, aku bicara dem...