Langsung ke konten utama

Seseorang yang Dikuasai Emosi



Bicara tentang emosi, ada sebagian orang yang harus hidup dengan dominasi entitas tersebut. Baiklah, agar semakin jelas konteksnya, saya ingin sedikit menyinggung tentang penggolongan kepribadian berdasarkan MBTI. Dimana salah satunya ada klaster orang-orang yang mempunyai kecenderungan untuk menjadi pereasa, dengan F (Feeling) sebagai salah satu yang dominan. Ada pihak-pihak yang memang sedikit meragukan tes kepribadian MBTI ini . Namun setidaknya, tes ini memberi  sedikit banyak cukup cocok dengan diri saya. Dan sebagai salah satu dari anggota perasa, saya ingin menjabarkan bagaimana rasanya menjadi demikian. 

Seorang dengan spektrum perasa yang dominan akan mengalami emosi yang intens. Yang kadang akan memancing orang berkomentar, "yah gitu aja nangis", "gitu aja marah". Tentu saja bagi kami, mulut mereka seharusnga perlu dilem. Mereka yang mungkin bukan seorang feeler belum tahu bagaimana sebuah emosia berresonansi dalam diri, bertumbuh berkali-lipat hingga memporakporandakan energi, semangat yang tadinya telah dibangun. Jadi tidak heran, ketika seorang perasa memilih menyembunyikan emosinya.

Lalu bagaimana seseorang bisa tumbuh menjadi demikian, saya sendiri tidak terlalu mengerti.Namun, mengingat pertumbuhan anak adalah multifaktor, saya tidak bisa menyebutkan satu saya. Bisa jadi orang tua, lingkungan, atau hal lain. Yang pasti kedua hal itulah faktor yang cukup besar kontribusinya. Jangan salah, meskipun kecenderungan untuk menjadi salah satu jenis kepribadian ada sejak kecil, jika dibina dengan benar, mereka akan bisa menjadi kelompok  feeler yang sehat. 

Mereka bisa mengungkapkan perasaannya dengan benar sehingga tak menyimpan bom waktu dalam diri. Namun demikian, tentu saja ada juga para feeler yang tidak terlalu sehat. Mereka yang tumbuh di lingkungan yang kurang menerima keadaannya akan hidup dengan penuh penyesalan, menyalahkan diri dan juga apatis. Jika menyebutkan lingkungan dan anak, apa yang akan terbayang pertama kali? Keluarga? Orang tua? Ya, merekalah yang saya maksud.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Superpower

 If you had chosen a superpower, what would you have? I can't tell. Living for a long time is not my dream since I love sleeping very much. A skill to be invisible? I don't think I need it since I don't have any willingness to eavesdrops. And how would you utilize that information you got? I have no idea. Then, I suppose, stopping time is what I want. Since I have wasted it much.  But somehow, I know what my current skill is. It's chasing away people. I am good at ignoring and making them annoyed and leave me. Is it a skill? But is it a skill or a mere weakness? Or you can make it as an excuse: My weakness is my strength, heh. No, honestly, I learn to accept this dark side of mine. Learning and understanding this specific person is a real struggle. And now I realize the gravity of my stupidity. Still, chasing people away by lying is not actually my thing. Will I be punished afterlife for this? I do regret. I was wrong and deeply apologize. Sorry for being childish and d...

Telling a Lie

 I wonder. Why I feel this way. Everything seems messed up. I remember that day, I don't feel right about our relationship. It felt grayish. You message me as if I am someone. But, we progressed nowhere. Perhaps, It was just a play? Or solely a friend? But I don't think that is what a friend supposed to be. Then, I found the easiest way, to cut down our channel by saying I would get married. I didn't like your taste of humor and that stuck relationship. I had a feeling that you too, didn't have any intentions or courage to escalate it into the next level. So I lied. I said that I had found someone, and I would send you an invitation. I asked your address but ended up sending nothing. Because the truth is there is no marriage.  It's been five years, hasn't it? And We completely become stranger. No message sent at all. All is cut off. Do you have any clue that it was a lie? Now, I kind of regret it. I wasn't supposed to tell you a lie. However, I don't hav...

Peringatan

 Seberapa jauh perjalanan yang perlu ditempuh untuk sampai? Ketika memikirkan hal ini, semuanya akan terasa berat. Pikiran, dan hati akan tebebani karena pandangan dipenuhi oleh ribuan langkah yang mesti ditempuh untuk tiba di tujuan. Ada juga yang tidak tahu sama sekali tentang tujuan mereka. Tak tahu kemana melangkah, tiap langkah kecilnya selalu diikuti ketakutan. Hingga kita kadang memutuskan untuk ambil jalan termudah, tidak melakukan apa-apa.  Namun, tidak melakukan apa-apa bukan berarti kamu tidak kemana-mana. Waktu akan menyeret kamu, ke tempat yang sama sekali tidak terprediksi, yang acap kali berupa tempat yang tidak mengenakkan, penyesalan. Tulisan ini adalah peringatan dan juga ajakan untuk diri sendiri yang kerap tak sengaja terlelap dan tak melakukan apapun.  Kalau boleh jujur berpendapat, sepertinya pikiranmu sudah terlalu terkontaminasi oleh keragu-raguan kronis. Ketidakpercayaandirimu sudah terlalu kronis, sepertinya. Bukan tanpa dasar sih, aku bicara dem...