Langsung ke konten utama

Menerima Kebaikan

 Terbiasa diabaikan dan mengabaikan orang lain. Tanpa disadari, diri sudah mengadopsi sebuah pemikiran  bahwa kamu patut untut diabaikan. Ketika orang yang kamu kira akan mengabaikannmuu seperti kebanyakan orang lainnya, justru ia meminta maaf  terlebih dahulu. Padahal kamu memulainya dengan cara yang tidak etis. Melenceng dari keyakinan yang kamu pegang. Orang itu membuatmu semakin sadar, bahwa kamu tidak layak menerima kebaikan itu.

 Sesungguhnya kamu juga nggak tahu, harus bagaimana. Kenapa kamu jadi kecewa sendiri? Kamu tidak suka sisi dirimu yang seperti itu. Yang terlalu takut meminta bantuan. Selalu berfikir bahwa permintaan tolongmu tak akan di dengar. Sayangnya ada satu orang yang kemudian menyadarkanmu atas ketakutan itu. Dan kamu mengecewakan dirimu. Ketakutan itu membuat semuanya serba salah. Kamu begitu kecewa karena tak mampu mengutarakan maumu dengan benar. Tapi orang yang kamu mintai tolong justru meminta maaf karena tak mendengarmu. 

Kebaikan itu, membuatku tak bisa berhenti menangis. Tiap kali aku merasa tidak layak, menerimanya. Aku yang memintanya dengan cara tak layak ini, kenapa harus mendengar permintaan maaf? Seharusnya aku yang minta maaf duluan. Karena salahku lebih banyak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Superpower

 If you had chosen a superpower, what would you have? I can't tell. Living for a long time is not my dream since I love sleeping very much. A skill to be invisible? I don't think I need it since I don't have any willingness to eavesdrops. And how would you utilize that information you got? I have no idea. Then, I suppose, stopping time is what I want. Since I have wasted it much.  But somehow, I know what my current skill is. It's chasing away people. I am good at ignoring and making them annoyed and leave me. Is it a skill? But is it a skill or a mere weakness? Or you can make it as an excuse: My weakness is my strength, heh. No, honestly, I learn to accept this dark side of mine. Learning and understanding this specific person is a real struggle. And now I realize the gravity of my stupidity. Still, chasing people away by lying is not actually my thing. Will I be punished afterlife for this? I do regret. I was wrong and deeply apologize. Sorry for being childish and d...

Telling a Lie

 I wonder. Why I feel this way. Everything seems messed up. I remember that day, I don't feel right about our relationship. It felt grayish. You message me as if I am someone. But, we progressed nowhere. Perhaps, It was just a play? Or solely a friend? But I don't think that is what a friend supposed to be. Then, I found the easiest way, to cut down our channel by saying I would get married. I didn't like your taste of humor and that stuck relationship. I had a feeling that you too, didn't have any intentions or courage to escalate it into the next level. So I lied. I said that I had found someone, and I would send you an invitation. I asked your address but ended up sending nothing. Because the truth is there is no marriage.  It's been five years, hasn't it? And We completely become stranger. No message sent at all. All is cut off. Do you have any clue that it was a lie? Now, I kind of regret it. I wasn't supposed to tell you a lie. However, I don't hav...

Peringatan

 Seberapa jauh perjalanan yang perlu ditempuh untuk sampai? Ketika memikirkan hal ini, semuanya akan terasa berat. Pikiran, dan hati akan tebebani karena pandangan dipenuhi oleh ribuan langkah yang mesti ditempuh untuk tiba di tujuan. Ada juga yang tidak tahu sama sekali tentang tujuan mereka. Tak tahu kemana melangkah, tiap langkah kecilnya selalu diikuti ketakutan. Hingga kita kadang memutuskan untuk ambil jalan termudah, tidak melakukan apa-apa.  Namun, tidak melakukan apa-apa bukan berarti kamu tidak kemana-mana. Waktu akan menyeret kamu, ke tempat yang sama sekali tidak terprediksi, yang acap kali berupa tempat yang tidak mengenakkan, penyesalan. Tulisan ini adalah peringatan dan juga ajakan untuk diri sendiri yang kerap tak sengaja terlelap dan tak melakukan apapun.  Kalau boleh jujur berpendapat, sepertinya pikiranmu sudah terlalu terkontaminasi oleh keragu-raguan kronis. Ketidakpercayaandirimu sudah terlalu kronis, sepertinya. Bukan tanpa dasar sih, aku bicara dem...