Langsung ke konten utama

Chronostasis

Ada lini masa yang membeku. Bagi otak manusia, ada ilusi yang menetap, berada di sana, statis, tak turut jalannya waktu. Pernah alami bagaimana guru TK, SD, paman,  bibi, kakek, nenek, teman lama, atau saudara jauhmu yang kompak bilang, "Wah, sudah besar, ya, sekarang? Atau "Wow, kamu kelihatan tua dewasa ya, sekarang?" - atau ekspresi sejenisnya, setelah bertahun-tahun tidak bertemu?  Itu bukan cuman basa-basi. I believe that is a genuine expression of wonder. 

Personamu di mata mereka masihlah anak bawang yang mereka temui bertahun-tahun lalu. There is no update in their brains. Informasi tentangmu membeku dan usang. In their memory, time freezes. Detik jam seolah berhenti. Sampai kemudian kamu menemuinya dan memberika update terbaru. Mengisi impresi lama dengan perspektif baru. Secara nggak langsung, you help your people to perceive yourself more accurately. 

Some people forget that change is an absolute. And the others stuck with their old perspective. Your last impression would also be a variable which give you color. Did you give a good or bad last impression? 

Kalau yang kedua, mungkin akan ada nuansa aneh yang bakal kamu dengar saat bertemu.  Misal, "Eh, ini dulu kamu yang suka pup di kelas itu ya? Wah sekarang udah besar, ya!"

That sounds offensive. But, trying to sort things out might give us better understanding. First, it's a nice thing to be remembered. Second, they are able to recall very specific thing about you. It means, those people care, despite the unpleasant details. 


Postingan populer dari blog ini

Uncertainty

How do you get used to this feeling? The feeling of uncertainty, the feeling of fear of unknown. Rasanya ingin menghindar ketika dihadapkan dalam situasi ini. Namun, dibalik ketidaknyamanannya, this uncertainty feeling sometimes hides a treasure. This feeling has been with me since the afternoon. Aku mulai mengidentifikasi perasaan tidak nyaman ini sebagai ketakutanku jika tidak bisa mempresentasikan materi dengan baik. Padahal, ketika kuliah, perasaan ini adalah teman yang tiap hari menyapa. Di situasi semacam ini, aku perlu menjustifikasi banyak hal, menjelaskan berbagai macam hal termasuk cara kerja dunia dan pikiran orang lain untuk menenangkan diri. Aku juga mencoba untuk membelah diri, mencoba menjadi pengamat atas diriku yang sedang gelisah. Pengamat yang tak menghakimi, memvalidasinya, dan menghiburnya bahwa perasaan ini sungguh hal wajar, dan terkadang,sisi baiknya,  membuatku menyadari bahwa aku manusia.  Risiko orang overthinking, barangkali. Aku tengah berusaha men...