Langsung ke konten utama

Telling a Bullshits

Manusia itu makhluk emosi. Ia yang mengemudikan perilaku dan keputusan, termasuk sebuah kebohongan. Ketika merasa cemas, khawatir ia akan bermanuver, menghindari rintangan yang kadangkala hanya fatamorgana. Ketakutannya yang menjadikannya kemudian memutar lidah, mengatakan omong kosong. 
Apakah setelah beermanuver musti meminta maaf? Hal inilah yang sedang kupertimbangkan. Setelah mengatakan sebuah kebohongan, rasa bersalah itu akan muncul. Kemudian, ada keinginan untuk meminta maaf. Namun sesunggguhnya kepada siapakah permintaan maaf ii sebenarnya diajukan? Apakah kepada orang yang telah dibohongi? atau kepada diri kita sendiri yang telah dihianati. Sebab saat berbohong, diri sendirilah yang kemudian bersedih.
Di sisi lain, ego terkadang membuat pembenaran. Alasan-alasan yang memungkinkan norma menerima alasan kita untuk berbohong. Sayangnya, meskipun alasan telah dibuat sedemikian rupa, rasa bersalah masih menang. Apa buktinya? Keinginan untuk meminta maaf itu selalu muncul pertama. 
Lalu, apa yang mustinya diharapkan setelah meminta maaf? Penerimaan? Kasihan? Kesan baik? 
Tidakkah kemudian permintaan maaf kehilangan esensinya? 
Jika difikirkan lebih lagi, memaafkan itu sebenarnya apa? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Superpower

 If you had chosen a superpower, what would you have? I can't tell. Living for a long time is not my dream since I love sleeping very much. A skill to be invisible? I don't think I need it since I don't have any willingness to eavesdrops. And how would you utilize that information you got? I have no idea. Then, I suppose, stopping time is what I want. Since I have wasted it much.  But somehow, I know what my current skill is. It's chasing away people. I am good at ignoring and making them annoyed and leave me. Is it a skill? But is it a skill or a mere weakness? Or you can make it as an excuse: My weakness is my strength, heh. No, honestly, I learn to accept this dark side of mine. Learning and understanding this specific person is a real struggle. And now I realize the gravity of my stupidity. Still, chasing people away by lying is not actually my thing. Will I be punished afterlife for this? I do regret. I was wrong and deeply apologize. Sorry for being childish and d...

Telling a Lie

 I wonder. Why I feel this way. Everything seems messed up. I remember that day, I don't feel right about our relationship. It felt grayish. You message me as if I am someone. But, we progressed nowhere. Perhaps, It was just a play? Or solely a friend? But I don't think that is what a friend supposed to be. Then, I found the easiest way, to cut down our channel by saying I would get married. I didn't like your taste of humor and that stuck relationship. I had a feeling that you too, didn't have any intentions or courage to escalate it into the next level. So I lied. I said that I had found someone, and I would send you an invitation. I asked your address but ended up sending nothing. Because the truth is there is no marriage.  It's been five years, hasn't it? And We completely become stranger. No message sent at all. All is cut off. Do you have any clue that it was a lie? Now, I kind of regret it. I wasn't supposed to tell you a lie. However, I don't hav...

Peringatan

 Seberapa jauh perjalanan yang perlu ditempuh untuk sampai? Ketika memikirkan hal ini, semuanya akan terasa berat. Pikiran, dan hati akan tebebani karena pandangan dipenuhi oleh ribuan langkah yang mesti ditempuh untuk tiba di tujuan. Ada juga yang tidak tahu sama sekali tentang tujuan mereka. Tak tahu kemana melangkah, tiap langkah kecilnya selalu diikuti ketakutan. Hingga kita kadang memutuskan untuk ambil jalan termudah, tidak melakukan apa-apa.  Namun, tidak melakukan apa-apa bukan berarti kamu tidak kemana-mana. Waktu akan menyeret kamu, ke tempat yang sama sekali tidak terprediksi, yang acap kali berupa tempat yang tidak mengenakkan, penyesalan. Tulisan ini adalah peringatan dan juga ajakan untuk diri sendiri yang kerap tak sengaja terlelap dan tak melakukan apapun.  Kalau boleh jujur berpendapat, sepertinya pikiranmu sudah terlalu terkontaminasi oleh keragu-raguan kronis. Ketidakpercayaandirimu sudah terlalu kronis, sepertinya. Bukan tanpa dasar sih, aku bicara dem...