Langsung ke konten utama

Euforia dan Debaran yang Bikin Pusing

Jelang tenggat waktu sebuah kompetisi, aku fokus menghabiskan waktu untuk menyelesaikan sebuah karya. Karya yang saya buat dengan cukup niat, karena merupakan interpretasi dari karya lain yang ku kagumi. Setelah merampungkan semuanya, emosi yang aneh melingkupi. Aku merasa deg-degan dengan sebuah euforia yang asing. Serasa seperti ketika hendak menghadapi ujian. Ada adrenalin yang membuncah. 

Saat mengumpulkan karyapun, tidak bisa sesantai biasanya. Tangan sedikit tremor karena emosi ini. Aku tidak yakin apa yang sedang saya rasakan. Mungkin karena saya menantikan sesuatu yang baik , atau karena ekspektasi yang berlebih akan sesuatu. Namun saat itu aku sadar bahwa emosi ini sudah luber, alias berlebihan. Aku harus segera menetralkannya sebelum semuanya berantakan. Sesaat kemudian, emosi ini agak mereda, digantikan oleh kepala berdenyut. 

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, kenapa saya merasakan emosi ini? Sungguh nggak biasa, dan aku tidak menyukainya. Seperti badai sesaat, yang menandakan bahaya. Belajar dari pengalaman, aku tidak ingin terlalu dalam terlibat dalam ekspektasi pada makhluk, sebab ia cepat atau lambat akan melukaimu. Cepat kuingatkan diri untuk tidak berlebihan menyikapi, karena hidup ini terus meroda. Jangan terlalu mengharapkan hal yang sangat bagus, dan bersyukurlah untuk setiap hal yang bisa kamu lewati. Fokus pada apa yang bisa dikerjakan saat ini, dan tetap rendah hati sehingga kamu tidak lupa dengan karunia dan nikmat dari  Tuhan. 

Postingan populer dari blog ini

Uncertainty

How do you get used to this feeling? The feeling of uncertainty, the feeling of fear of unknown. Rasanya ingin menghindar ketika dihadapkan dalam situasi ini. Namun, dibalik ketidaknyamanannya, this uncertainty feeling sometimes hides a treasure. This feeling has been with me since the afternoon. Aku mulai mengidentifikasi perasaan tidak nyaman ini sebagai ketakutanku jika tidak bisa mempresentasikan materi dengan baik. Padahal, ketika kuliah, perasaan ini adalah teman yang tiap hari menyapa. Di situasi semacam ini, aku perlu menjustifikasi banyak hal, menjelaskan berbagai macam hal termasuk cara kerja dunia dan pikiran orang lain untuk menenangkan diri. Aku juga mencoba untuk membelah diri, mencoba menjadi pengamat atas diriku yang sedang gelisah. Pengamat yang tak menghakimi, memvalidasinya, dan menghiburnya bahwa perasaan ini sungguh hal wajar, dan terkadang,sisi baiknya,  membuatku menyadari bahwa aku manusia.  Risiko orang overthinking, barangkali. Aku tengah berusaha men...

Manual Book

This life doesn't come with a manual book. Often times, you have to learn everything autodidactically. Sometimes you choose not to learn but win your ego. The one which helps you survive. However, retrospectively you can set aside that thing to reflect. But somehow retrospective learning is slow and late. Simple lesson you get from experience can help you navigate better. Some people don't like it when you fold the corner of a book. They hate it to the point they will cut off the friendship. The lesson; be careful next time you borrow your friend's book. Don't forget to apologize after making that mistake, so no social bond must be sacrificed. Even though an apology doesn't guarantee that. At least, it will reduce the risk. So, nothing to lose. Lower your damn ego a bit, probably.  I thought folding book's paper wasn't a big deal. While I was staring at his annoyed face, I wondered, what was really wrong? Why it made him angry. I didn't get it. I remembe...